BerandaOpini

Kontribusi Diaspora Indonesia di Australia : Tantangan atau Keuntungan?

×

Kontribusi Diaspora Indonesia di Australia : Tantangan atau Keuntungan?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Wedala Unnafis Asri (F061211025)

Masalah-masalah diaspora selalu tidak lepas dari berbagai tantangan, di manapun akan selalu memunculkan tantangan bagi para imigran. Tidak dalam wilayah tertentu saja tantangan itu akan muncul, namun dalam setiap pertemuan dua kebudayaan yang berbeda akan menemukan masalah atau tantangannya sendiri. Seperti ketika suatu bangsa berpindah ke wilayah bangsa lain yang kebiasaan atau budayanya sangat berbeda, maka akan kesulitan bagi bangsa yang melakukan perpindahan untuk menyesuaikan diri/beradaptasi dalam lingkungan dan budaya yang baru. Itulah yang kemudian menjadi tantangannya.

Demikian tantangan tidak dapat dihitung utama dalam pembahasan mengenai diaspora, sebab dalam hal itu tantangan seperti menjadi satu persoalan yang biasa saja dan tentunya itu itu saja. Melihat kesempatan dan peluang adalah hal hal yang perlu menjadi fokus utama dalam membahas mengenai diaspora. Karena diaspora dapat dilihat sebagai upaya untuk mencari kesejahteraan dan peningkatan hidup yang lebih baik serta bermanfaat bagi banyak orang, seperti berdiaspora untuk menuntut ilmu dan usaha mencari pekerjaan yang lebih layak untuk menaikkan kehidupan perekonomian yang lebih baik, baik itu dalam lingkup diri sendiri maupun negara dalam ruang yang lebih luas dan umum.

Dalam tulisannya Joshua Fernando bersama teman temannya yang lain membahas mengenai bagaimana budaya dan kebiasaan masyarakat di Australia yang menjadi dasar bagaimana mestinya para diaspora terutama mahasiswa dalam menyesuaikan diri agar tidak terjadi geger budaya. Geger budaya adalah masalah yang terjadi apabila seseorang atau kelompok/komunitas tidak mampu membentengi diri dari hal hal yang baru, sehingga untuk mencegahnya perlu pencarian solusi dan kesiapan yang matang di dalam diri sendiri untuk menghadapinya. Lagi-lagi ini bukanlah hal yang baru dengan masalah yang baru, namun tetap dengan persoalan yang sama dan memang akan selalu ada baik di negara manapun, bukan hanya di Australia.

Baca juga :  Pj Wali Kota Parepare Teken Kelanjutan Kerjasama Penerangan Jalan Bersama PLN

Kesiapan diri adalah hal yang utama bagi para diaspora untuk menghadapi kemungkinan ketidakcocokan yang ada, sehingga tidak terlalu memfokuskan diri pada berbagai tantangan yang akan muncul tetapi fokus pada hal bermanfaat seperti apa yang akan diperoleh. Karena setiap seseorang berdiaspora maka tantangan itu selau ada, sementara keuntungan kerap kali tidak berpihak. Kadangkala keberuntungan dan keuntungan yang dicari tidak ujuk-ujuk datang semudah itu, melainkan akan sering didampingi oleh kerugian. Memang tantangan dan masalah akan selalu ada, namun kita akan lebih banyak memperhatikan keuntungan yang telah diperoleh.

Di Australia sendiri terdapat cukup banyak rumah makan Indonesia yang diungkap oleh Mr. Tod Dias seorang Konsul Jenderal dari Australia, baik di dalamnya yang bekerja orang Indonesia maupun warga Australia sekalipun. Ini menunjukkan bagaimana Indonesia sudah tampak memperoleh apa yang disebut keuntungan. Keuntungan yang dimaksud adalah bagaimana makanan menjadi branding utama dalam menaikkan nama bangsa Indonesia dan perekonomian negara yang mungkin dalam bentuk diplomasi. Seperti dalam tulisan Putri Indahtantri yang membahas mengenai upaya Indonesia untuk menerapkan kebijakan Gatsrodiplomasi yang berarti membranding makanan Indonesia sehingga kemudian dapat mempererat hubungan hubungan yang baik antara Indonesia dan Australia.

Dapat dilihat bagaimana tantangan-tantang diaspora Indonesia di Australia bukanlah masalah yang begitu sulit untuk diselesaikan, karena ditunjukkan dengan tetap berjalannya kerjasama antara kedua negara tersebut. Bahkan Konsul Jenderal dari Australia mencatat data sensus jumlah orang Indonesia yang berpenduduk di Australia mencapai 96.800 jiwa. Jumlah tersebut menunjukkan cukup tingginya minat orang Indonesia yang berdiaspora di Australia. Mr. Tod Dias dalam pertemuannya dengan mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Hasanuddin mengungkap bahwa di Australia terhitung banyak perantau Indonesia di Australia berporfesi sebagai mahasiswa, yang artinya hubungan kedua negara saling menguntungkan baik dari aspek pendidikan maupun ekonomi. Dari beberapa hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa diaspora Indonesia di Australia pada umumnya harus dilihat sebagai sebuah keuntungan dan tidak hanya tantangan saja.

Baca juga :  Pemkot Parepare Dukung Eksistensi Produk Lokal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *