Beranda

Pekkabata, Jalan Bercabang Dulu dan Kini

×

Pekkabata, Jalan Bercabang Dulu dan Kini

Sebarkan artikel ini

Oleh: Anwar Makatengnga

Dalam bahasa Bugis pekka atau pakka berarti cabang, sedang Bata bermakna jalan. Dua kata yang kemudian membentuk nama Pekkabata: Jalan yang bercabang. Dari cerita para sepuh, dijelaskan bahwa jalan bercabang ini atau Pekkabata merujuk pada jalan masuk ke wilayah bernama Paria, yang dahulu kala merupakan pusat Addatuang (kerajaan, atau pusat pemerintahan) yang wilayahnya melingkupi beberapa, termasuk Pekkabata. Pelan-pelan pusat pemerintahan bergeser dari Paria ke Pekkabata, yang kini menjadi ibukota dari kecamatan Duampanua.

Tak ada gapura ataupun gerbang sebagai penanda pintu masuk ke kampung ini. Satu penanda baru bagi Pekkabata adalah sebuah lampu jalan pertanda hati-hati yang didirikan diujung jalan utama memasuki kampung. Aku tidak tahu apa nama yang jelas untuk menyebut benda itu. Sama dengan ketidakmengertianku kenapa lampu tersebut didirikan dan bagaimana benda itu bisa membuat orang berhati-hati. Lampu oranye yang berkedip-kedip, tanpa hijau dan merah -sebagaimana lampu lalulintas pada umumnya yang memaksa orang untuk berhenti dan mengomandoi pengendara untuk bergerak.

Ada tidaknya lampu oranye itu, orang-orang tetap berkendara seperti biasa. Tanpa lampu itupun semua orang tentu tahu kapan mereka harus memelankan laju kendaraannya atau berhenti jika dirasa perlu. Ada lampu atau tidak, orang tidak akan dengan sengaja menabrakkan diri pada truk yang melintas. Kecuali ada orang yang memang berniat mencelakai dirinya.

Setelah melalui lampu berkedap-kedip yang aneh tadi, kita masuk dan bertemu sebuah tugu yang tahun lalu ambruk dihantam mobil truk. Sebuah tugu yang kelihatan mengenaskan kini. Tugu yang dulu menjadi tengaran (landmark) bagi tempat ini.

Tugu yang ambruk itu berbentuk manusia bercelana pendek yang berdiri di atas bangunan serupa podium sambil mengangkat obor dengan salah satu tangannya.

Setelah dihantam truk, tersisa podium yang tetap berdiri, sementara sosok bercelana pendek terjengkang ke belakang dari atas podium dengan tangan masih memegang obor. Beberapa hari lalu saya masih melihatnya seperti itu, entahlah kalau akhirnya sosok patung yang kasihan itu sudah disingkirkan.

Cerita yang beredar, patung itu dulu didirikan untuk menghormati seorang pemain sepakbola yang katanya merupakan mega bintang lapangan hijau pada masanya yang berasal dari kampung kami, Pekkabata. Tentu tidak setara Lionel Messi atau Ramang sang legenda PSM Makassar, tapi konon kabarnya sosok dibalik patung itu pernah berjaya membawa kampung kami beberapa kali juara di ajang sepakbola Tarkam (antar kampung) yang dulu rutin dihelat tiap perayaan hari kemerdekaan.

Nasib tugu yang ambruk itu 11-12 (serupa) dengan lapangan sepakbolanya. Lapangan yang tidak lagi bisa digunakan untuk bermain bola, tidak lagi terurus. Kini hanya ada padang rumput luas yang beralih fungsi menjadi tempat menggembalakan sapi. Menggantikan arena sepakbola yang dulu mungkin menjadi saksi kehebatan sosok di balik patung.

Tugu pemain sepakbola terletak di depan pasar. Jika patung dan lapangan, serta lampu ‘oranye’ membawa cerita tentang “kehancuran” dan keanehan, lain halnya dengan pasar yang masih kokoh bertahan sebagai jantung kehidupan warga. Banyak orang yang bergantung pada pasar yang hanya digelar dua kali seminggu. Tempat ini selalu dibanjiri oleh lautan manusia. Tidak hanya warga setempat, namun warga desa sekitar, bahkan dari kabupaten lain juga menjadi bagian dari orang-orang yang berdesakan di pasar. Baik sebagai penjual ataupun pembeli.

Pasar terdiri atas beberapa los yang dikelompokkan berdasarkan barang yang dijajakkan. Ikan-ikan yang dibawa dari laut ataupun tambak yang berasal dari desa tetangga dan sayur-mayur segar yang baru dipetik dari kebun-kebun sekitar, mengisi petak yang sama. Petak yang selalu becek. Ada juga los penjual pakaian yang berbagi ruang dengan pedagang emas, pedagang parang, pisau dan alat-alat pertanian. Sementara sisanya seperti penjual kue dan makanan menempati tempat yang acak.

Dulu di masa sekolah, saya dan teman-teman cukup sering mendatangi pasar ini. Jika bertepatan dengan hari libur, kami akan berdandan semaksimal mungkin, memakai pakaian terbaik. Biasanya memakai baju terbaik yang dibeli menjelang lebaran. karena di masa itu, kami pada umumnya hanya dibelikan baju baru menjelang hari raya. Jika tidak sedang libur, kami punya sedikit sisa waktu untuk mengunjungi pasar sepulang sekolah. Baju seragam dikeluarkan, memakai topi terbalik, adalah gaya andalan yang kami contoh dari sinetron-sinetron remaja di televisi. Pasar menjadi salah satu tempat berkumpul yang asik. Bahkan meski uang di kantong kosong, pasar tetap menjadi pilihan kami untuk sekedar mejeng ditengah keramaian.

Baca juga :  Pj Bupati Pinrang Semprit 10 Camat gegara Tak Hadiri Pelantikan PPK: Ini Bahan Evaluasi

Los penjual pakaian bekas yang kami sebut cakar adalah titik andalan kami untuk berkumpul. Menyenangkan melihat orang ‘mencakar-cakar’ pakaian yang dulu dijual dengan cara memumpuknya begitu saja.

Bagian lain yang kusukai dari dulu untuk kudatangi adalah jajaran penjual CD dan kaset yang semuanya bajakan. Dan penjual obat tradisional yang sekarang sudah sulit ditemui. Dari lapak CD bajakan selalu terdengar musik yang diputarkan. Sebuah cara menarik pelanggan dan cara yang dilakukan pedagang untuk mengetes kaset dan CD-nya. Pedagang akan memutarkan kaset atau CD kepada pembeli untuk mengetes apakah kualitas gambar dan suaranya bagus serta terputar dengan lancar

Sementara di lapak penjual obat, kami yang masih kanak-kanak akan selalu menunggu saat-saat pedagang mengeluarkan ‘kesaktiannya’. Meski kebanyakan hanya berupa trik sulap belaka untuk menarik penonton dan tentu saja berharap obat yang dijualnya akan laku. Dan kadang yang diperagakan tidak ada kaitannya dengan obat yang dijual. Tapi begitulah mereka mencari nafkah, dan begitulah cara kami mendapatkan hiburan.

Perubahan wajah kampung

Saya lebih suka Pekkabata tetap sebagai kampung. Meskipun kenyataannya waktu telah mencerabut banyak suasana khas perkampungan dan pembangunan yang pelan-pelan merubah wajah: mencoba menjadi kota. Sekitar tahun 2013-2014, saya lupa tepatnya, dibangun sebuah minimarket. Minimarket berlogo merah-biru-kuning itu didirikan tepat di seberang pasar.

Bangunan itu mengubah wajah desa dan pelan-pelan juga merubah aktivitas belanja masyarakat. Di minimarket orang bisa belanja dengan nyaman, dan membeli hal-hal yang tidak bisa ditemukan di pasar atau warung-warung sekitar. Hal-hal yang hanya dilihat di iklan-iklan TV bisa kau beli di minimarket yang terang dan berpendingin udara. Di awal terbukanya, minimarket ini diserbu orang-orang untuk berbelanja. Rayuan diskon, dan mungkin juga citra modern: lebih berkelas, membuat orang-orang memilihnya dibanding pasar tradisional yang becek dan bau.

Kehadiran minimarket yang membawa semangat modern dan kota, pelan-pelan membuat satu per satu warung-warung kecil berhenti berjualan. Sesuatu yang hampir selalu terjadi di banyak tempat di Indonesia: pembangunan, kemajuan, modernitas dibenturkan dengan hal-hal tradisional, berkekuatan kecil. Hasilnya, kemajuan hampir selalu memakan ‘tumbal’ dan tumbal dari minimarket adalah warung-warung kecil tradisional yang satu per satu gulung tikar. 

Beberapa tahun lalu ada fenomena baru yang juga mengubah wajah desa. Sejak beberapa tahun belakangan orang-orang di kampungku ramai membangun gedung-gedung. Berdiri dengan  ketinggian rata-rata setinggi rumah berlantai dua, bahkan ada juga yang melebihi, umumnya gedung-gedung baru berbentuk persegi. Bangunan tersebut adalah rumah walet, yang dimaksudkan sebagai sarang walet. Sejak harga sarang walet melonjak dengan kisaran harga 12-15 juta per kilo ditambah gosip-gosip tentang kesuksesan mereka yang sudah lebih dulu terjun di usaha itu, maka  banyak orang tergiur untuk mendirikan rumah walet.

Seorang teman yang bekerja di bank mengatakan bahwa seiring dengan banyaknya usaha burung walet, jumlah permintaan kredit juga meningkat. Untuk mendirikan satu gedung walet memang memerlukan biaya yang tidak bisa dibilang murah. Tidak sedikit juga warga yang akhirnya menjual tanah, atau menggadaikan sawahnya untuk bisa membangun rumah walet.

Tidak sulit menemukan gedung-gedung walet sekarang ini. Gedung walet menjadi pemandangan jamak yang sekarang menghiasi kampung. Selain citra yang berubah, suara walet yang bersumber dari pelontar yang dipasang di atas gedung -yang bertujuan memancing walet untuk bersarang juga- menjadi bunyi baru yang hampir sepanjang hari akan didengarkan. Sejauh ini belum ada orang yang mengeluh langsung bunyi yang memenuhi telinga sepanjang hari. Meski memang sedikit mengganggu ketenangan, tapi orang-orang terlihat cukup bisa memakluminya.

Jika kau ingin mendengarkan suara cericit burung seperti di alam terbuka datanglah kesini. Suara-suara burung ‘artifisial’ itu bisa kau dengarkan sampai bosan.

Baca juga :  Irwan Hamid ‘Buang’ Alimin, Kini Pilih Sudirman jadi Pendamping di Pilkada 2024

Selain gedung walet, kampung kami juga pernah diwarnai dengan berdirinya kafe-kafe. Beberapa kafe hadir secara hampir serempak. Desa awalnya terasa sangat semarak. Muda-mudi nongkrong di kafe, membuat reuni padahal belum cukup setahun tak bertemu, berswafoto dan membagi di media sosial. Lidah kampung kami pun akhirnya bisa merasakan aneka jenis racikan kopi dan minuman-minuman kekinian, yang sebelumnya hanya mengenal kopi hitam yang langsung diseduh atau aneka rasa dari kopi-kopi saset. Dan kita bisa menikmati minuman-minuman kekinian itu dipadu dengan suasana baru yang meriah untuk berkumpul.

Kafe secara perlahan-lahan mengubah kultur kami yang dulu menjadikan pos ronda atau perempatan jalan untuk berkumpul bercengkrama sambil bermain gitar. Ruang baru pun terbentuk dan melahirkan ‘kelas baru’ di masyarakat desa. “Kafe menjadi penanda gaya hidup kelas menengah, tempat kelas di bawahnya tidak menjadi bagian.” tulis budayawan Seno Gumira Adjidarma dalam sebuah esainya, ‘Intelektual Starbucks’.

Ruang baru bernama kafe memang melahirkan budaya baru, khususnya bagi anak-anak muda kampung. Meski harus merogoh kocek lebih dalam itu dirasa tak apa, demi nongkrong di kafe untuk terlihat keren. Di kafe, kita sedikitnya harus mengeluarkan uang yang setara dengan harga dua porsi nasi kuning di pasar dengan lauk lengkap. Bagi yang berduit, tentu tidak jadi masalah, berbeda denganku yang pas-pasan. Untunglah, aku tidak terlalu menyukai nongkrong di kafe. Lidahku masih lebih menyukai kopi hitam yang diseduh seadanya sambil merokok kretek yang kunikmati di teras rumah

Kehadiran minimarket, gedung-gedung walet, dan kafe-kafe sedikit banyak telah mengubah citra dan pelan-pelan kultur di masyarakat. Perubahan yang mengusikku untuk mempertanyakan kembali identitas kampung atau desa. Tentu saja kemajuan, modernitas tidak selalu berarti buruk. Tapi begitu juga dengan hal-hal yang bernuansa tradisional, tidak selalu bermakna terbelakang. Saya kerap bingung ketika orang menyebut Pekkabata sebagai kota, tapi perubahan-perubahan yang terjadi memang telah banyak merubah wajahnya. 

”Tarik menarik terjadi dalam hati mereka, antara iya sebagai orang kota sekaligus bukan orang kota. Tarik menarik terjadi dalam hati mereka antara iya sebagai orang kota karena tinggal di lingkungan yang sudah berubah menjadi kota, sementara mereka masih mempunyai aktivitas bercocok tanam padi di sawah,” begitulah tulis Imam Setyobudi, ahli antropologi budaya, dalam buku ‘Menari di Antara Sawah dan Kota : Ambiguitas Diri, Petani-petani Terakhir di Yogyakarta’. Imam menegaskan lagi, “Inilah paradoksnya. Dunia memang penuh dengan hal yang berlawanan.” Pengalaman yang persis kurasakan.

Kampung kami memang dikepung oleh sawah. Dengan persawahan yang lebih luas dari kawasan pemukiman, mayoritas warga menggantungkan hidupnya dari   pertanian. Tapi semakin waktu bergerak maju maka jumlah petani, khususnya petani muda, semakin berkurang pula. Aku menduga bukan karena kerja sebagai petani  sudah tidak menjanjikan. Memang harga pupuk hampir selalu meningkat, ditambah lagi kelangkaannya kerap terjadi yang membuat banyak petani mengeluh. Tapi hal tersebut kurasa bukan faktor utama berkurangnya  petani di kampung kami.

“Berat sekali itu jadi petani, harus tahan panas, capek, kotor. Mending jadi pegawai atau PNS, duduk-duduk saja di gaji, pake seragam topa (lagi). Kalau PNS ada gaji pensiunnya, na hargai ki juga orang (orang-orang juga menghargai).”

Itulah jawaban yang saya dapatkan ketika pada suatu sore iseng bertanya kepada salah satu tetangga. Dia tidak ingin anaknya mengikuti jejak sebagai petani, karena  dianggap bukan prestasi yang keren. Padahal dari bertani dia bisa menyekolahkan anaknya itu sampai kuliah, juga membangun rumah dan membeli kendaraan bermotor. Bekerja sebagai PNS adalah yang dia idam-idamkan bagi anaknya karena bisa meningkatkan derajat keluarga, katanya. Dilanjutkannya cerita dengan menyebut si A, si B, dan si C yang sudah sukses dalam kacamatanya sebagai PNS. Ada gengsi dan prestise dari pekerjaan itu, sedang petani, menurutnya, adalah pekerjaan yang kalau bisa jangan dicita-citakan.

Pandangan seperti itu, sekarang, jamak saya dapati. Di daerah yang dikelilingi oleh persawahan. Saya coba membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan. Ketika para petani yang sekarang ini akhirnya wafat. Maka siapa yang akan mengolah lahan persawahan. Kondisi yang sebenarnya pelan-pelan mulai terlihat hari ini dengan petani muda tinggal sedikit yang tersisa.. Ataukah di masa datang sawah-sawah akan musnah di Pekkabata.

Baca juga :  Potensi Ada Tersangka Lain, Istri Pelaku Pembunuhan Pria di Sidrap Segera Diperiksa 

Mereka yang pergi dan mereka yang bertahan.

Kampung halaman akan selalu merekam peristiwa:  pergi atau bertahan.

Ketika memutuskan untuk pulang kampung dan berniat menetap setelah menyelesaikan kuliah, saya mendapati perasaan yang asing. Tidak banyak lagi kutemui teman-temanku dulu. Banyak yang telah meninggalkan kampung untuk kerja di kota atau di luar daerah. Khususnya mereka yang memang tidak punya lahan untuk digarap. Tidak banyak yang bisa dikerjakan jika tetap bertahan di kampung halaman. Mereka yang tinggal untuk bertani bisa dihitung dengan jari.

Salah seorang kawan menceritakan bagaimana dulu ia memutuskan untuk pergi. Sebelum memutuskan untuk merantau, dia bekerja sebagai buruh bangunan “Keluargaku ndak (tidak) punya sawah, apa yang bisa saya kerja. Makanya saya ikut kerja tukang.”

Tidak punya pilihan, maka dia memutuskan untuk merantau ke Kalimantan. Berbekal ijasah paket C, dia ikut teman yang sudah terlebih dahulu bekerja di sana, sebagai pekerja tambang. Dia bercerita bahwa kenyataan yang dialami di perantauan pada awalnya sangat jauh dari yang dia bayangkan sebelum berangkat:  pekerjaan bagus dan gaji besar. Rasa putus asa pernah menghinggapi, namun pulang kampung tidak akan merubah nasibnya, pikirnya waktu itu.

“Kami harus memanggul pipa ke mata air yang posisinya berkilo-kilo di dalam hutan, kemudian mengalirkannya ke pemukiman,” begitulah pekerjaannya saat  pertama kali menginjakkan kaki di perantauan. Bekerja sebagai buruh di perusahaan tambang.

Dia meninggalkan kampung sejak tahun 2008 dan sampai hari ini masih tetap bekerja di perantauan yang sama namun dengan posisi yang lebih mapan, bukan sebagai pemanggul pipa lagi. Dia berhasil naik pangkat menjadi supervisor atau pengawas dan mensyukuri  pekerjaannya. Pelan-pelan dia bisa membantu dan mensejahterahkan keluarganya, sesuatu yang sempat dia anggap tidak akan pernah diwujudkannya jika tetap bertahan di kampung. 

Kawanku itu adalah salah satu dari sejumlah orang yang merasakan bahwa kampung halaman tidak bisa memberi apa-apa dan  merantau adalah satu-satunya pilihan. Dia berhasil meraih rejeki di luar kampung. Tapi jelas rejeki juga ada di kampung Pekkabata.

Tetanggaku yang sehari-hari bekerja sebagai penjual kue mengakui kampung kami  adalah tempat yang nyaman baginya. Dia bukan penduduk asli namun puluhan tahun lalu datang dari Jawa dan akhirnya memilih untuk menetap. Walau sekarang sekarang sangat fasih berbahasa Bugis, dialek Jawa yang masih kental membuat cara bicaranya terdengar lucu: “Tinggal di sini enak mas, apa-apa murah, mau sayur tinggal petik.”

Dia menjual kue di Pasar Pekkabata dan beberapa pasar di desa lain. Enam hari seminggu dia berkeliling untuk jualan kue. Karena di kawasan kami, tidak ada pasar yang digelar di hari Selasa, jadilah Selasa sebagai hari liburnya. Sebelum menetap di Pekkabata, dia mengaku sudah berkali-kali pindah tempat. Dia pernah ke Kalimantan, juga Sumatra sebelum menemukan  Pekkabata di Sulawesi Selatan. Sebuah kampung yang tak pernah terbayangkan menjadi pilihan tempat tinggalnya.

Dua peristiwa itu -pergi atau bertahan- terjadi di banyak tempat di dunia, sama seperti perubahan. Juga di Pekkabata. Ada yang pergi merantau dan ada yang bertahan di setiap jengkal tanahnya.  Sedang perubahan tak hanya pada tempat semata,  namun termasuk pula kebiasaan dan tradisi orang-orang di tempat itu.

Saya tidak menentang perubahan dalam berbagai skala dengan rentang waktu cepat atau lambat. Tapi saya yakin perubahan selalu bercabang dua: kemajuan dan kemunduran. Semoga di Pekkabata cabangnya adalah kemajuan.
***

(tulisan ini dimuat di buku: Indonesia Kami: Sehimpun Reportase. Diterbitkan Bilik Literasi, Solo.)

Biodata Penulis

Anwar Makatengnga, pernah bermimpi menjadi pemain bola terkenal. Hobi membaca dan menonton film. Penikmat kopi dan penggemar karya-karya Gabriel Garcia Marquez dan Hayao Miyazaki. Sejak masa pandemi menjadi pengurus perpustakaan kecil Puscata sampai sekarang. Menyukai perbincangan-perbincangan remeh-temeh. Sedang belajar menulis dan menjadi pendengar yang baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *