Pinrang— Dalam rangka mengendalikan penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), Dinas Kesehatan Kabupaten Pinrang terus melakukan berbagai upaya preventif, salah satunya dengan melakukan penyemprotan fogging di wilayah-wilayah yang teridentifikasi sebagai daerah endemik.
Muh Sabir, penanggung jawab program DBD di Dinas Kesehatan Pinrang, menyampaikan bahwa hingga saat ini, pihaknya telah melaksanakan fogging di 15 titik prioritas yang tersebar di berbagai kecamatan.
“Fogging adalah salah satu metode pengendalian nyamuk Aedes aegypti, vektor utama penyebab DBD. Kami telah melakukan penyemprotan di wilayah-wilayah yang memiliki riwayat kasus tinggi,” ungkapnya kepada Angindai.com, Kamis (21/2/2025).
Fogging dilakukan dengan menggunakan mesin khusus yang menyemprotkan asap berisi insektisida untuk membunuh nyamuk dewasa. Namun, Sabir menegaskan bahwa metode ini tidak bisa digunakan secara sembarangan.
“Penyemprotan harus dilakukan sesuai dengan standar operasional. Kami selalu berkoordinasi dengan kelurahan, kecamatan, dan puskesmas sebelum melakukan tindakan,” jelasnya.
Ia juga menambahkan, waktu penyemprotan sangat berpengaruh terhadap efektivitas fogging. Oleh karena itu, kegiatan ini dilaksanakan pada jam-jam di mana nyamuk Aedes aegypti paling aktif, yakni pukul 08.00–11.00 WIB dan 14.00–17.00 WIB.
Meskipun fogging dianggap mampu menekan populasi nyamuk dewasa, Sabir mengingatkan bahwa metode ini tidak efektif terhadap telur dan larva nyamuk.
“Kalau hanya mengandalkan fogging, masalah DBD tidak akan selesai. Yang paling penting adalah memutus siklus hidup nyamuk sejak dini,” tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Pinrang, drg. Dyah Puspita Dewi, menekankan bahwa pemberantasan sarang nyamuk (PSN) merupakan strategi yang lebih berkelanjutan dan efektif.
“PSN mencakup kegiatan 3M: menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, dan mengubur barang bekas yang berpotensi jadi tempat nyamuk berkembang biak. Ini jauh lebih efektif dalam jangka panjang,” terangnya.
Selain aksi penyemprotan, Dinas Kesehatan juga terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat untuk aktif menjaga kebersihan lingkungan dan terlibat langsung dalam gerakan pemberantasan sarang nyamuk.
“DBD bisa dicegah jika masyarakat sadar dan ikut serta. Peran aktif warga sangat menentukan keberhasilan pengendalian penyakit ini,” pungkas drg. Dyah.












