JAKARTA – Ruang publik kerap kali menjadi sorotan ketika tokoh, terlebih pejabat publik, mengeluarkan pernyataan. Satu kata yang keliru bisa menjadi sorotan besar, meski sesungguhnya kapasitas dan integritas seseorang tidak semata diukur dari ucapannya.
Dalam dunia komunikasi publik, salah ucap adalah hal yang manusiawi. Yang lebih penting adalah bagaimana seorang tokoh mampu meluruskan pernyataannya, konsisten pada substansi yang disampaikan, serta menunjukkan tanggung jawab atas amanah yang diemban.
Hal itu ditunjukkan Wakil Ketua DPR RI Adies Kadir. Di tengah derasnya kritik dan tekanan, politisi Partai Golkar ini memilih bersikap kesatria dengan mengakui dan meralat pernyataannya yang dianggap keliru. Langkah itu diambil setelah ia melakukan klarifikasi langsung ke Sekretariat Jenderal DPR RI, menelusuri data dan fakta sebelum menyampaikan koreksi.
Bagi sejumlah aktivis mahasiswa, sikap tersebut mencerminkan kedewasaan seorang pemimpin. “Saya melihat Pak Adies tidak segan membuka pintu dialog. Bahkan sebagai mahasiswa dari kampung yang kuliah di Jakarta, saya bisa merasakan bahwa beliau adalah salah satu pimpinan DPR yang mudah ditemui,” ujar Muhammad Imran, aktivis pelajar dan mahasiswa.
Adies Kadir sendiri dikenal aktif memperjuangkan aspirasi rakyat, memiliki rekam jejak pengabdian yang panjang, dan konsisten mendorong kebijakan yang berpihak kepada masyarakat.
Dari peristiwa ini, generasi muda diajak untuk belajar pentingnya ketelitian dalam komunikasi publik. Bagi Imran, kejadian ini juga menjadi pengingat bahwa kritik dan evaluasi tetap perlu, namun harus disampaikan dengan cara yang membangun.
“Komunikasi publik menuntut ketelitian, tetapi juga membutuhkan ruang maaf dan pemahaman. Kita harus menciptakan ruang publik yang sehat, edukatif, dan berimbang. Kritik boleh, evaluasi perlu, tetapi jangan sampai berubah menjadi penjarahan atau perusakan fasilitas umum,” tegas Imran. (Rls)












