BerandaOpini

This War Of Mine, Game Anti Perang yang Memotret Dilema Moralitas Korban

×

This War Of Mine, Game Anti Perang yang Memotret Dilema Moralitas Korban

Sebarkan artikel ini

“In modern war you will die like a dog for no good reason”- Hemingway

Anton adalah seorang ahli matematika. Keahliannya pernah membawanya masuk dalam nominasi peraih penghargaan Fields Medal Once-sebuah penghargaan setara Nobel, khusus di bidang Matematika. Dia menjalani hidup dengan berprofesi sebagai seorang guru matematika. Kecintaannya pada matematika dan dunia pendidikan adalah perkara yang membuatnya menghabiskan sebagian besar hidupnya menjadi seorang guru. 

Cveta adalah seorang perempuan yang sangat mencintai anak-anak. Baginya, setiap anak layak untuk mendapat kebahagiaan dan perhatian sejak dini agar bisa tumbuh sebagai pribadi yang baik. Kecintaannya itu membuatnya memilih mencurahkan hidupnya di bidang pendidikan anak. Cveta adalah seorang kepala sekolah di Sekolah Dasar. Kasih sayangnya yang tulus membuat murid-murid juga menyayanginya.

Anton dan Cveta adalah teman semasa sekolah. Mereka terpisah ketika lulus sekolah menengah dan sejak saat itu tidak pernah bertemu lagi. Memilih hidup dan masa depannya masing-masing dan tak pernah lagi bertemu semenjak itu. Hingga akhirnya sebuah peristiwa yang tidak pernah mereka bayangkan, tidak pernah terlintas sedikitpun oleh para warga Pogoren. Sebuah peristiwa yang mengubah cerita hidup Anton dan Cveta, serta semua warga Pogoren.

Hari itu, kota dipenuhi bising senjata dan suara ledakan menggema bersama sirine ambulance yang hilir mudik. Bangunan satu-persatu hancur, roboh. Orang-orang berlari kebingungan dalam kesedihan yang penuh. Batas hidup dan mati semakin samar dan terasa dekat. Ketika puing adalah akhir dari tembakan dan ledakan bom. Ketika amarah dan air mata berkecamuk di dada masing-masing orang.

Takdir mempertemukan Anton dan Cveta. Pertemuan yang tidak pernah mereka bayangkan. Bertemu sebagai sosok yang berbeda dari beberapa tahun silam, bahkan beberapa bulan yang lalu, bertemu dalam perasaan yang sama. Kesedihan dan ketakutan. Di sebuah bangunan yang telah hancur separuhnya, menjadi pilihan yang tersedia dari sedikit. Berlindung dari perang yang membuat mereka tidak punya banyak pilihan untuk bertahan hidup. Perang yang membuat mereka berakhir di tempat seperti itu. Dinding-dinding yang separuhnya hancur, dinding yang berlobang peluru, adalah selemah-lemahnya perlindungan yang bisa mereka harapkan.

Mereka tidak bisa memastikan sampai kapan dan seberapa jauh mereka bisa bertahan. Karena maut terasa sangat dekat di sana. Kematian adalah kenyataan yang lebih dekat dibanding hidup di hari-hari itu. Meskipun di tengah derita, masih ada beberapa orang yang saling membantu. Berbagi kelebihan makanan yang jelas lebihnya adalah sedikit saja dan terbatas.

Baca juga :  Bupati Pinrang Irwan Hamid Lepas Tim Safari Ramadan

Masih ada harapan atas kemanusiaan di situasi dimana hampir semua orang berubah, menanggalkan nilai-nilai luhur. tapi dengan daya batas yang sangat rendah, niat baik para manusia dibatasi oleh sumber daya, kemampuan apa yang bisa dibagikan lagi, ketika yang ditemui dan dimiliki hampir tak ada. Di saat itu, maut hadir dalam rupa-rupa wajah dengan segala kemungkinannya yang nyata. Dia bisa hadir sebagai sosok-sosok bersenjata yang bisa sewaktu-waktu datang dan menyerang. Peluru tajam dan ledakan bisa menghantam kapan saja. Dia juga bisa muncul dalam rupa-rupa penyakit dan kelaparan.

Hidup di bawah reruntuhan, di kondisi bahan makanan yang tidak tersedia. Beberapa kali mereka tidak punya pilihan selain memakan daging tikus hanya untuk mengisi perut-perut mereka yang kosong. Wajah kematian juga bisa hadir dalam wujud putih seperti malaikat. Musim dingin yang membekukan, yang menyerang mereka di bawah reruntuhan, di bawah atap dan dinding yang menganga. Kematian juga bisa muncul dalam wajah yang sangat mereka kenali. Wajah-wajah sedih dan ketakutan seperti mereka. Mereka yang tidak punya banyak pilihan. Pilihan sebatas hanya pada membunuh atau dibunuh, merampok dan membunuh, atau mati kelaparan.

Anton dan Cveta menolak kalah. Bertahan semampu dan sebisa mereka. Menjaga agar tetap waras di tengah kegilaan, Ketika nyawa terasa murah. Meski mereka tahu semua tidak pernah dan tidak akan mudah. Meski mereka tahu keahlian mereka masing-masing tidak lagi berarti banyak di kondisi seperti itu. Serangan yang bisa hadir sewaktu-waktu adalah peristiwa yang tidak bisa dikalkulasi menggunakan rumus matematika. Dan menghindari mereka yang menyerang tidak selalu bisa dengan menasehati mereka, layaknya menasehati anak kecil untuk berhenti mengarahkan senjata.

***

Terinspirasi Perang Saudara di Sarajevo

Anton dan Cveta adalah dua dari banyak karakter yang bisa ditemui dan dimainkan dalam serial game, This War Of Mine (TWOM). Meski hanya sebuah karakter dalam gim video, sosok tersebut terasa relate untuk memberikan sedikit gambaran tentang sebuah kenyataan bernama perang. Game ini diproduksi oleh 11 Bit Studios pada tahun 2014 dan masih bisa dimainkan sampai hari ini. TWOM, adalah game perang yang berbeda. Kita tidak akan mendapati diri memainkan karakter yang berada di garda depan peperangan, yang bertugas menembak atau membunuh dengan cara apapun musuh agar kita bisa meraih kemenangan. Berbeda dengan game yang lain, yang memperlihatkan bahwa tembak-menembak, saling hantam, saling tikam, sebagai sebuah hiburan dan melahirkan heroisme, ketika kita berhasil membunuh.

Baca juga :  KPU Pinrang Kecolongan Saat Simulasi, Pemilih Nyoblos Dua Kali

Karakter yang dimainkan dalam This War of Mine adalah karakter yang menjadi korban di tengah perang yang berkecamuk. Ini yang membuat gim ini terasa berbeda. Alur cerita dari permainan ini terinspirasi dari perang saudara di Sarajevo yang pecah pada tahun 1992 hingga 1995 di milenium ketika perang dunia telah berakhir.

Alih-alih membutuhkan karakter petarung yang kuat, karakter-karakter yang bisa dimainkan ini adalah gambaran manusia dengan segala kompleksitas hidupnya. Dengan segenap emosi yang berbeda-beda. Membunuh atau menyakiti orang lain bisa berpengaruh pada emosi beberapa karakter. Kesedihan dan kekecewaan bisa muncul, dan puncak dari segalanya bisa berujung pada depresi berat yang membuat karakter mungkin saja melakukan bunuh diri.

Hal ini adalah gambaran nyata yang bisa kita temui, di medan laga, salah satu yang harus di lawan adalah diri sendiri. Kompleksitas itu yang akan kita temukan dalam game ini, karakter yang berbeda-beda yang bisa kita mainkan, dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing yang disatukan oleh kondisi peperangan. Dan ada satu lagi yang menjadi perhatian dalam TWOM.

Ketika permainan berakhir, akan muncul epilog yang menceritakan tentang bagaimana karakter yang kita mainkan hidup setelah perang berakhir. Ternyata, kebanyakan dari karakter akan terjelaskan bahwa perang telah mencipta trauma mendalam dalam hidup mereka, beberapa mungkin tidak bisa lagi bertahan di negaranya sendiri, memilih pindah untuk mencari rasa aman, untuk menghapus luka yang membekas di tengah perang. 

**

Game Perang yang Menolak Perang

Simon Parkin, menulis di New Yorker sebuah artikel yang berjudul “This War of Mine and the New Combat Aesthetic”. Dia menyebutkan ‘Michal Drozdowski, direktur kreatif 11 Bit Studios, perusahaan di balik This War of Mine, memberi tahu saya baru-baru ini. “Pengalaman utama orang-orang dalam perang biasanya mengintai dan menunggu sesuatu terjadi.” Seperti tentara, katanya, pengemudi bus, kasir, dan warga sipil lainnya “harus melakukan apa yang diperlukan untuk bertahan hidup. Dalam permainan, ini melibatkan banyak dilema moral.

Apakah layak untuk pergi ke supermarket lokal yang terlantar, atau haruskah Anda menyerbu rumah pasangan tua berkaki lambat di sebelah? Perjalanan ke gudang mereka yang lengkap mungkin akan memperpanjang hidup Anda, yang, pada gilirannya, akan memberi Anda waktu untuk belajar hidup dengan diri sendiri”.

Baca juga :  Sukseskan Pilkada 2024, RSUD Andi Makkassau Ikuti Sosialisasi Pemilih dan Pendidikan Politik

Michal Drozdowski, lelaki Polandia yang merupakan Creative Director dari 11 Bit Studio, menyebutkan bahwa game ini hadir setelah melakukan riset panjang selama dua tahun tentang perang Sarajevo. 

Dilema moral yang dihadirkan di tengah kesulitan, menjadi inti dari permainan ini. Posisi ini adalah gambaran nyata dari para korban perang dimanapun berada. Posisi 11 bit Studios jelas, mereka menolak perang, bagaimanapun bentuknya. Ini jelas ditunjukkan, di awal game sebuah kutipan dari Hemingway menjadi pembuka, sebelum kita memulai perjuangan bertahan hidup di video game ini. “In modern war you will die like a dog for no good reason”

Sejak rilis pada tahun 2014, gim ini meraih lebih dari 100 penghargaan dan telah terjual 6 juta copy sampai hari ini. Penghargaan yang diraih diantaranya Best of PAX, Independent Games Festival Audience Award. Metro UK memberikan komentar positif, bahwa gim ini merupakan sebuah Upaya yang berani, dan sebagian besar berhasil, untuk menunjukkan sisi lain perang dari sudut pandang sipil, yang berhasil sebagai drama interaktif bahkan ketika kadang-kadang kamu gagal dalam permainan ini.”

***

Donasi ke Tenaga Medis Perang Rusia-Ukraina

11 bit Studio lewat This War of Mine, adalah sedikit contoh yang menyajikan kepada kita betapa beratnya melalui masa-masa perang. Simulasi yang dicipta untuk mempertanyakan kembali makna kemanusiaan dan nilai-nilai yang kita pegang. Situasi sulit akan menunjukkan siapa dirimu sebenarnya, kira-kira seperti itulah misi yang coba dihadirkan dalam seri survival tersebut. Sebuah produk yang dibuat untuk kampanye, untuk menciptakan perdamaian di muka bumi.

Menanggapi perang Rusia-Ukraina, mereka mendonasikan keuntungan dari game ini untuk tenaga medis di sana. Sebuah tindakan-tindakan kecil perlawanan. Sebuah tindakan yang mengingatkan kita sekali lagi, meski sudah berkali-kali, bahwa perang hanya menyisakan derita dari banyak warga sipil yang terjepit atas nama kekuasaan. 

Biodata Penulis

Anwar Makatengnga, pernah bermimpi menjadi pemain bola terkenal. Hobi membaca dan menonton film. Penikmat kopi dan penggemar karya-karya Gabriel Garcia Marquez dan Hayao Miyazaki. Sejak masa pandemi menjadi pengurus perpustakaan kecil Puscata sampai sekarang. Menyukai perbincangan-perbincangan remeh-temeh. Sedang belajar menulis dan menjadi pendengar yang baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *